he term graphic design can refer to a number of artistic and professional disciplines which focus on visual communication and presentation. Various methods are used to create and combine symbols, images and/or words to create a visual representation of ideas and messages. A graphic designer may use typography, visual arts and page layout techniques to produce the final result. Graphic design often refers to both the process (designing) by which the communication is created and the products (designs) which are generated.
Common uses of graphic design include magazines, advertisements and product packaging. For example, a product package might include a logo or other artwork, organized text and pure design elements such as shapes and color which unify the piece. Composition is one of the most important features of graphic design especially when using pre-existing materials or diverse elements.
Selengkapnya...
Thursday, August 27, 2009
graphic design
Tuesday, August 4, 2009
STERLING HUNDLEY







memoriadistante illustration
con nina, cristobal, zoltán y balázs.









( ideas..)
Monday, August 3, 2009
Fesbuker Buka-Bukaan di Dinding Facebook

Demam Facebook! Dari ABG sampai orang tua keranjingan situs jejaring sosial Facebook. Mereka merasa berbunga-bunga setiap kali meng-up date foto, video sampai status. Jadi jangan heran, kalau di dinding atau wall facebook, kita jumpai beragam ekspresi orang. Boleh dibilang, seorang pendiam akan menjadi cerewet dengan menuliskan kata-kata bersayap saat menulis di statusnya. Bahkan bisa jadi, seorang yang kelewat rame terkesan irit bicara.
Yach, begitulah Facebook. Banyak hal seperti gosip, isu panas hingga kabar yang remeh temeh berhamburan di dinding Facebook. Semua berlomba-lomba mengup date status sekaligus rame-rame mengomentari. Disadari atau tidak, lewat Facebook, status sosial sudah menguap alias tak ada lagi sekat yang membatasi.
Para fesbuker atau pengguna facebook tak segan-segan meledek orang yang memiliki jabatan. Itulah letak keunikan Facebook. Menariknya lagi, banyak orang mengup date status yang sifatnya privat. Mmm…tak habis pikir. Di saat banyak di antara kita menabukan rahasia dapur rumah tangga untuk diekspos layaknya berita infotainment. Tapi justru, para fesbuker tak segan-segan mengobral kisah pribadinya. Kalau diperhatikan,dengan demikian, Anda bisa mengetahui isu paling hot cukup dari dinding Facebook.
Nah, buku MENDENGARKAN DINDING FESBUKER karya Sumbo Tinarbuko mengulas celoteh-celotah manis, hambar dan pedas yang dilontarkan para fesbuker yang terpampang di dinding Facebook. Dari celoteh-celoteh itu diambil benang merah untuk kemudian direlevansikan dengan realitas sosial politik seperti pilpres, koalisi hingga wisata kuliner. Sangat seru untuk diiikuti. Siapa pun yang mengaku pada fesbuker agaknya kurang afdol jika tidak membaca buku yang baru saja terbit ini.
Dengan membaca buku ini, Anda pasti akan benar-benar menyadari bahwa, Facebook menjadi ruang publik yang bisa mendekatkan yang jauh sekaligus bisa menjauhkan yang dekat.
Selengkapnya...
Fenomena Ruang Publik Maya Baru

Prof BJ Fogg, penyelenggara mata kuliah Psychology of Facebook di Stanford University, seperti dikutip Kompas Minggu (15/3/2009) menegaskan, ‘’Facebook saat ini menang karena menempatkan teman pada posisi terpenting. Cara kita berteman membentuk pengalaman kita di internet. Tidak ada teknologi lebih baik daripada pertemanan kita.’’
Pendapat Prof BJ Fogg disepakati Yasraf Amir Piliang. Dalam pandangannya fenomena facebook (FB) akan menggiring komunikasi ke arah simplicity menjadi lebih murah, mudah, semua arah. Model komunikasi terbuka yang sekaligus memungkinkan terjadinya promo: ide, gagasan, bahkan knowledge. ‘’Inilah fenomena open society. Image, citra dan ekses lain terbentuk dengan sendirinya secara luas, tak terbatas’’, papar dosen FSRD ITB (Tinarbuko, 2009:13).
Dengan demikian, sejalan pemikiran McLuhan tentang medium yang berasal dari perubahan dan kemudian menimbulkan perubahan yang paralel, maka hal itu membuktikan bahwa FB menjadi ruang publik maya baru bagi sebagian besar anggotanya. Banyak interpretasi sederhana yang muncul dari fenomena ini. Kalau dilihat dari sudut pandang psikologi, khususnya psikologi sosial, tersirat bahwa banyak manusia yang sebenarnya sangat haus dengan interaksi sosial. FB membuktikan alasan interaksi sosial adalah infrastruktur sosial. Betapa manusia di dunia ini telah terpuruk dan terperdaya oleh upaya mencari uang dan membenarkan segala sesuatunya demi uang padahal mereka semua butuh interaksi sosial.
Jujur harus diakui, FB kemudian menjadi ruang publik maya baru, terutama membuka peluang untuk merekatkan teman lama, teman yang hilang, atau menyapa orang yang jauh lokasinya. Atau bahkan memeroleh teman baru.
Semakin mutakhirnya peradaban manusia, harus diakui kebutuhan akan ruang publik baru semakin meningkat pula. Hal itu menjadi kebutuhan pokok setiap manusia yang senantiasa ingin melakukan sosialisasi dengan sesamanya. Jika kebutuhan hakiki seperti itu tidak terpenuhi, ditengarai memunculkan penyakit kejiwaan seperti psikopat atau schizophrenia paranoid. Artinya, setiap insan manusia membutuhkan ruang publik baru untuk reriungan dengan siapa pun dalam kondisi apa pun.
Terlepas dari pro dan kontra yang ada, sejatinya sebagai makhluk sosial, manusia selalu ingin melakukan sosialisasi dan berkomunikasi dengan sesamanya. Di dalam sebuah jalinan proses komunikasi seseorang yang terlibat di dalamnya pasti ingin menyampaikan sebuah pesan verbal dan visual. Harapannya, pesan yang disampaikan itu dapat dipahami oleh orang yang menerima pesan tersebut. Atas dasar pemikiran semacam itulah FB diciptakan. Selain itu FB senantiasa memfasilitasinya dan menyediakan media komunikasi audio visual agar kebutuhan seseorang untuk mengenal, mengetahui dan menyampaikan pesan kepada sesama manusia lainnya dapat terpenuhi dengan murah, mudah, dan cepat.
Ketika membaca status dan mendengarkan celotehan para fesbuker yang terpampang di dinding facebooknya masing-masing, harus diakui, seluruhnya merupakan representasi jiwa para fesbuker yang sehat dan merdeka dalam mengemukakan pendapatnya.
Kemerdekaan mengemukakan pendapat lewat medium FB dalam konteks realitas virtual, dapat dimaknai sebagai sebuah kelahiran ruang publik baru bagi masyarakat modern. Fenomena seperti itu menjadi gejala baru karena masyarakat Indonesia khususnya dan masyarakat dunia umumnya mulai menunjukkan ciri-ciri barunya sebagai masyarakat yang tinarbuka (terbuka) dan egaliter.
Fenomena realitas virtual menimbulkan kontradiksi dan memunculkan paradoks. Di dalamnya terlihat aspek oposisi binner: riuh rendah sekaligus sepi. Hiruk pikuk namun kosong melompong. Terkait dengan itu, pada satu sisi, para fesbuker (sebutan untuk pengguna FB) menemukan jalinan komunikasi: seolah-olah menjadi dekat secara virtual. Hubungan para fesbuker lebih cair, dan egaliter. Mereka pun mendapat ruang publik baru untuk menunjukkan fitrah narsismenya. Tapi, di sudut lain, FB juga memendam persoalan: pertama, jika orang merasa cukup dengan komunikasi virtual saja, maka para fesbuker bakal kehilangan sentuhan fisik kemanusiaannya. Kedua, jika para fesbuker ketagihan dengan FB maka mereka akan memasuki fenomena realitas virtual. Sebuah keadaan yang menjadikan hubungan realitas sosial dengan saudara, tetangga, dan masyarakat luas, berkurang secara signifikan.
Ketika para fesbuker lebih senang berkomunikasi dengan perantara piranti virtual. Akibat turunannya, silaturahmi dalam perwujudan keintiman fisik kemanusiaan, perlahan sirna. Pada titik negatif lainnya, FB terkesan mendangkalkan humanisme. FB memiliki magnet kuat untuk mengurangi hasrat pertemuan fisik kemanusiaan secara intim. Artinya, FB dengan setia menghubungkan para fesbuker secara virtual, tapi sekaligus menjauhkan para fesbuker dari realitas sosialnya.
Meski pun demikian, fenomena FB dalam ranah realitas vitual sulit dihindarkan. Ia menjadi fenomena dunia kontemporer. Keberadaannya pun seolah dikokohkan sebagai penanda zaman di abad digital. Kenapa? Karena realitas virtual konon diaku sebagai salah satu terminal pencapaian kebudayaan mutakhir sekarang ini.
*)Sumbo Tinarbuko
Selengkapnya...
Sindrom Bingung
Sedih rasanya setiap kali mendengar lagu Rayuan Pulau Kelapa di penghujung akhir acara TV. Lagu tersebut semakin menyayat hati manakala melihat Indonesia sebagai sebuah negara merdeka berdaulat terlihat bingung, limbung, dan canggung di tengah percaturan masyarakat dunia.
Kasus Ambalat, kekerasan kepada para TKW yang dilakukan majikannya di luar negeri. Pengeroyokan dan pembunuhan mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri, adalah sedikit contoh yang menjadi bukti bahwa pemerintah Indonesia tidak memiliki taji kewibawaan di tengah percaturan pergaulan diplomasi tingkat dunia.
Di dalam negeri pun, sebagian besar rakyat Indonesia terancam hak hidup dan kehidupannya akibat pemerintah tidak sepenuhnya menciptakan perikehidupan yang nyaman, aman, dan tentram hidup di tanah Indonesia. Ditengarai rakyat semakin sulit menemukan realitas sanctuary: sebuah wilayah, tempat publik berlindung dalam suasana sejuk, nyaman, dan aman.
Atas semua realitas sosial yang memprihatinkan itu, rakyat Indonesia yang hidup di alam jamrud katulistiwa hanya mampu menggumamkan seloka berjuluk tanya kenapa. Kata ‘tanya kenapa’ mencuat sebab diposisikan sebagai representasi kebingungan komunal akibat ketidakstabilan dan ketidapastian makna sebuah kehidupan di jagat Indonesia.
Secara ekonomi, sosial, dan budaya rakyat selalu kebingungan merasakan kenaikan harga sembako. Ketika kenaikan harga sembago belum bisa dikendalikan pemerintah, rakyat dibuat bingung lagi dengan membumbungnya dana kesehatan dan biaya pendidikan yang senantiasa menjadi perkara klasik setiap tahun ajaran baru.
Saat harga kebutuhan pokok membumbung tinggi yang diikuti dengan dana kesehatan dan biaya pendidikan, rakyat pun semakin bingung untuk menafkahi dirinya sendiri, berikut anak istrinya yang menjadi tanggungan hidup sesuai janji perkawinannya dulu. Artinya pada sudut ini, rakyat semakin bingung untuk meraih sebuah kehidupan yang sejahtera dalam konteks paling minimal sekali pun.
Ketika ketidaksejahteraan alias kemiskinan, dan tingginya jumlah angka pengangguran yang selalu bergelayut di langit kehidupan rakyat Indonesia, maka arah angin ketidakpuasan pada pemerintah akan selalu berhembus keras.
Fenomena kebingungan yang dialami bangsa Indonesia semakin mencapai puncaknya ketika parapakar yang diharapkan mampu memberikan aksentuasi positif guna mengatasi permasalahan carut marut, ternyata realitas di lapangan menyebutkan, parapakar hanya pandai membuat sukar. Segala suatu seharusnya mudah dikerjakan, di tangan parapakar justru dibuat sedemikian rupa supaya terlihat sukar. Demikian pula ulah paracerdik pandai. Mereka lebih cerdik mencerdiki rakyat yang tidak cerdik dengan berbagai pendapat dan teori ilmiah yang tidak membumi, sulit diaplikasikan secara menyeluruh dan menjangkau benak masyarakat luas.
Parapolitisi, wakil rakyat, dan pejabat publik pun setali tiga uang. Mereka sangat cerdik mengembangkan pola-pola egoisme pribadi dan golongan dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat. Warga terhormat yang dipercaya mengelola tatanegara senantiasa mengaplikasikan konsep kekuasaan adigang, adigung, adiguna dengan tatastruktur rapi. Pengejawantahannya, lebih mengedepankan sikap arogan karena mereka merasa paling baik dan selalu benar.
Ketika sikap hidup elit politik dan pejabat publik sebagai makhluk individual lebih ditonjolkan, maka tidak pernah ada jalan tengah untuk mengakhiri konflik egoisme prinsip yang tidak berprinsip. Ujung-ujungnya rakyat bingung karena merasa tidak terjamin kesejahteraan hidupnya, serta terwakili aspirasi dan harkat kepentingannya.
Akhir-akhir ini, kebingungan-kebingungan itu semakin merajalela ditengarai karena kita menjelma menjadi bangsa yang kurang memiliki rasa percaya diri terhadap potensi dan kekuatan dirinya sendiri. Bangsa ini semakin nyata menjadi bangsa yang bingung karena jiwa dan kepribadiannya sangat lemah akibat ketergantungan pada pihak asing yang senantiasa diposisikan sebagai dewa penyelamat yang konon mampu mengatasi segala permasalahan di bumi Indonesia ini.
Manakala bangsa Indonesia dilanda sindrom kebingungan, ironisnya kita justru lebih suka berpikir instan dan pragmatis. Rakyat lebih senang bersiasat jangka pendek dengan menisbikan jalinan sebuah proses. Padahal sebuah proses – apapun bentuk dan pengejawantahannya – sejatinya adalah pilihan wajib yang harus dilakukan oleh siapapun dalam mengisi hidup dan kehidupan ini. Pada titik seperti inilah, terlihat dengan gamblang, bangsa Indonesia yang sedang dirundung kebingungan ternyata gampang meninggalkan aspek moralitas, spiritualitas, adat istiadat, dan kearifan lokal yang sejujurnya menjadi penjaga gawang nurani untuk berbuat dan bertindak sesuai kepribadiannya sendiri secara mandiri dan merdeka.
Rakyat Indonesia cenderung terlihat malas mengolah segala potensi rasa dan karsa menjadi karya nyata yang mampu mewarnai dunia. Akibatnya, kita menjadi bangsa yang mudah bingung dan tersinggung karena tidak punya potensi dan jatidiri. Kita dihipnotis menjadi keledai dungu, dikendalikan negara asing yang menjajah secara ekonomi dan ideologi.
Kita menjadi bangsa yang lembek daya juangnya. Kita lebih suka menjadi bangsa konsumen dengan mengandalkan seluruh pemenuhan kebutuhan hidup melalui aktivitas impor. Kabar terakhir menyebutkan, kita mulai impor garam dan ikan laut dari luar negeri. Sementara Indonesia adalah negara maritim yang memiliki kekayaan laut yang sedemikian besar, tetapi kenapa untuk garam dan ikan laut kita mesti impor? Hayo tanya kenapa?
*)Sumbo Tinarbuko
Selengkapnya...











