HEADLINE TEXT MARQUE FITURE | CHANGE ALL OF THIS TEXT WITH YOUR OWN | MAGZ MODERN | TEMPLATE BY JALOE | DESIGN BY HERRO | MODIF BY NDYTEEN

Thursday, November 26, 2009

The phenomenon of New Maya Public Space

by Sumbo Tinarbuko

Prof. BJ Fogg, organizer of courses Psychology of Facebook at Stanford University, as quoted by Kompas Sunday (15/3/2009) asserted,''Facebook now won because placing friends in important positions. The way we are friends form our experience on the internet. There is no better technology than our friendship.''

Opinion of Prof. BJ Fogg agreed Yasraf Amir Piliang. In his view the phenomenon of facebook (FB) will lead to the simplicity of communication become cheaper, easier, all directions. Model of open communication and allow the promo: ideas, ideas, and even knowledge. ''This is the phenomenon of open society. Image, image and other excesses established itself widely,''limitless, said lecturers FSRD ITB (Tinarbuko, 2009:13).

Thus, McLuhan's line of thinking about the medium that comes from the change and then lead to changes in parallel, then it proves that the FB into a new virtual public space for the majority of its members. Many simple interpretation that arise from this phenomenon. When viewed from the perspective of psychology, particularly social psychology, implied that many people are actually very thirsty with social interaction. FB proves why social interaction is social infrastructure. How people in this world has fallen and deceived by the quest for money and justify everything for money and they all need social interaction.

Honesty must be admitted, FB then becomes the new virtual public space, especially the opportunity to glue the old friends, lost friends, or greet someone distant location. Or even memeroleh new friends.

More mutakhirnya human civilization, must be recognized the need for a new public space has increased as well. It was a staple of every human being who always wanted to socialize with others. If such essential requirements are not met, it is suspected mental illness led to such a psychopath or paranoid schizophrenia. This means that each human beings need a new public space for reriungan with anyone in any circumstances.

Regardless of the pros and cons of the existing, true as social beings, humans always want to socialize and communicate with each other. In a fabric of one's communication process involved in it would want to convey a verbal and visual messages. The hope, the message can be understood by the person receiving the message. On the basis of that kind of thinking that created FB. In addition FB is always facilitate and provide audio-visual communications media so that a person needs to recognize, acknowledge and deliver a message to other human beings can be met by cheap, easy, and fast.

When reading and listening to the status of the fesbuker posted on the wall facebooknya respectively, must be acknowledged, entirely a mental representation of the fesbuker healthy and independent in his opinion.

Independence expressed the opinion through the medium of FB in the context of virtual reality, can be interpreted as a birth of a new public space for modern society. This phenomenon became a new phenomenon for Indonesian society in particular and the world community generally begin to show new features as a society tinarbuka (open) and egalitarian.

The phenomenon of virtual reality created contradictions and paradoxes come up. In it looked aspect of opposition Binner: noisy and quiet. Noisy but empty. Related to that, on the one hand, the fesbuker (FB user name) to find the fabric of communication: as if to close the virtual. Relationship of fesbuker more liquid, and egalitarian. They also got a new public space to show narsismenya nature. But, in another corner, FB also keeping the issue: first, if people have enough with virtual communications only, then would lose the fesbuker physical touch of humanity. Second, if the fesbuker addicted to FB then they will enter the virtual reality phenomenon. A circumstance that makes the social reality of the relationship with relatives, neighbors, and society at large, is significantly reduced.

When the fesbuker preferred medium to communicate with virtual devices. As a result of derivatives, Hospitality in the realization of human physical intimacy, slowly evaporate. In another negative point, FB impressed mendangkalkan humanism. FB has a strong magnet to reduce the desire for physical meetings are intimately human. This means, FB faithfully fesbuker connect the virtual, but at the same time keep the fesbuker of social reality.

Even though such a phenomenon in the realm of reality FB vitual hard to avoid. He became a phenomenon of the contemporary world. Its existence was like as a marker dikokohkan era in the digital age. Why? Because virtual reality is said to be one diaku terminals present the latest achievements of this culture.

*) Sumbo Tinarbuko, Lecturer Visual Communication and FSR ISI Yogyakarta''Book Author Fesbuker Listening Walls Galangpress''Multicom Publishing Group, July 2009. This article appeared in the Daily Radar Jogja, Friday July 24, 2009. Selengkapnya...

Friday, November 20, 2009

GETART #3






CITA-CITA kemerdekaan yang melandasi kehidupan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seperti ditegaskan dalam Undang-Undang Dasar 1945, adalah merdeka dari kemiskinan, dan kebodohan, sehingga bisa menjadi bangsa yang mandiri dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, hukum, budaya. Dan dengan kemerdekaan yang dimiliki tersebut, dapat menjadi alat dan medan perjuangan bagi terselenggaranya kehidupan bangsa yang cerdas, adil, makmur, sejahtera. Namun ironisnya, di Indonesia, ternyata dalam masalah pendidikan belumlah mendapatkan kemerdekaan.

Lantas adakah konsep pendidikan yang berbasis kerakyatan, dan realitas?
Diskursus mengenai konsep pendidikan terus menjadi kajian yang menarik untuk diperbincangkan. Telaah dari berbagai konsep pendidikan tersebut tentunya tidak bisa lepas dari landasan berpikir beserta argumentasinya. Seperti konsep pendidikan yang ditawarkan oleh Raden Mas Suwardi Suryaningrat, sekarang dikenal dengan Ki Hajar Dewantara, yang tanggal kelahirannya diperingati sebagai hari pendidikan nasional. Konsep pendidikan yang diusung oleh Ki Hajar Dewantara adalah pendidikan yang berciri khas kebangsaan. Maksud dari konsep tersebut adalah, menanamkan nilai-nilai kebangsaan dalam praktik pendidikan nasional. Tujuannya agar setiap penduduk memiliki semangat kebangsaan untuk membela Negara dengan jiwa patriotisme yang tinggi untuk mencapai kemerdekaan
Konsep pendidikan yang ditawarkan oleh GeTaRt juga berasaskan pada kodrat alam, dan kemerkaan. Dijelaskan bahwa manusia adalah mahluk Tuhan yang mempunyai kekuatan kodrati untuk berkembang. Serta meyakini bahwa manusia dapat tumbuh serta memelihara dan mengembangkan hidupnya sendiri dengan memanfaatkan kreatifitas yang dipunyai.
Semangat pendidikan kerakyatan yang GeTaRt, ternyata bisa menjawab tantangan kerakyatan pada saat ini. Dengan bekal kerakyatan, mendekatkan pada realitas yang terjadi serta mengembangkan kepribadian atau potensi diri yang dimiliki, maka output dari pendikan tersebut bisa hidup bersama rakyat untuk mengagkat rakyat jelata. Sehingga generasi-generasi muda pada saat itu, memiliki jiwa pembebasan dari belenggu imperialisme penjajah.
Sekarang kita telah merdeka, merdeka dari penjajahan secara fisik. Namun secara pendidikan, kita belum merdeka. Keadaan Indonesia pun semakin silang sengkurat.
Dalam keadaan carut-marut seperti sekarang, sudah saatnya kita berpikir tentang membangun kembali pendidikan sebagai bagian dari gerakan rakyat. Sudah saatnya pula pemerintah berbesar hati mengakui keterbatasannya, dan menjadi lembaga pemberi fasilitas dan pengakuan kepada usaha-usaha rakyat membangun pendidikannya sendiri. Pengalaman sejarah Indonesia sendiri memperlihatkan bahwa pendidikan yang didasarkan pada kerakyatan, malah bisa membangun negeri ini.
Melalui GeTaRt kita belajar bersama tanpa harus ada biaya karena GeTaRt adalah majalah KERAKYATAN berbasis GRATISAN!!!
Silahkan bajak dan copy paste majalah ini karena dengan pembajakan majalah getart kita akan bisa maju dan berpendidikan...

Selengkapnya...

Tuesday, November 10, 2009

Diskomplet



I. Latar Belakang

Menjadi sebuah kewajiban bagi segenap civitas akademika yang bergelut di dalam ranah seni untuk selalu memberikan informasi yang bernilai estetis dan berdaya guna ataupun bernilai lebih bagi para apresian dan penggiat dunia seni. Dengan adanya kewajiban tersebut maka tujuan berkesenian yang menjadi dasar kemunculan dari civitas akademika tersebut tidak hanya sekedar sebagai packaging yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu, namun juga seyogyanya sanggup menumbuhkan embrio akan wawasan dan wacana berkesenian baru bagi seluruh lapisan masyarakat. Terlebih lagi jika kewajiban tersebut merupakan agenda berkesinambungan yang tanpa henti sebagai wujud dari kontribusi positif yang membangun secara menyeluruh dari segenap civitas akademika dunia seni kepada segenap lapisan masyarakat.
Disain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia Yogyakarta (DKV ISI Yogya) sebagai salah satu bagian dari fenomena kehidupan berkesenian seperti tersebut di atas dalam perjalanannya selalu berusaha memberikan wacana dan wawasan baru bagi segenap elemen masyarakat. Bahasa ungkap yang dihadirkannya memberikan semacam dimensi pemahaman baru bagi perkembangan dunia estetika terapan yang bersinggungan dengan dunia riil di sekitar kita. Sehingga sudah menjadi semacam tanggung jawab bagi DKV ISI Yogyakarta untuk selalu menghadirkan diri di tengah masyarakat dalam bentuk pameran ataupun event lainnya.
Merujuk pada hal tersebut di atas maka Disain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia Yogyakarta menyelenggarakan pameran dengan tajuk ’Diskomplet’. Pameran ini disamping sebagai agenda rutin dari prodi Disain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta, juga sebagai wahana berkreasi segenap elemen dosen dan mahasiswa DKV ISI sekaligus sebagai sumbangsih yang tiada henti kepada segenap apresian seni dan penggiat dunia seni khususnya seni disain. Diharapkan dengan pameran ini semakin menumbuhkan-mengembangkan iklim berkesenian agar semakin dinamis dan melahirkan embrio-embrio baru nan segar dalam ranah ilmu disain komunikasi visual.
Tajuk ‘Diskomplet’ terwujud dari kata Disain Komunikasi Visual dan Komplet (Bahasa Jawa). Artinya bahwa dalam pameran ini menampilkan ke-komplit-an yang dimiliki oleh prodi Disain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Ke-komplit-an ini termanifestasi dalam idiom visual jamu tradisonal yang nota bene mampu membikin sehat/menyehatkan, orisinil dalam konten dan konteks, berolah rasa dalam proses pembuatan, parennialis-ekletik-progresif dan sekaligus bernuansa lokal. Hal itulah sebetulnya menjadi salah satu kunci anomali yang berbeda dari DKV ISI Yogyakarta.
Dengan demikian, dengan hadirnya ”Diskomplet” ini maka makin segar, maju dan jayalah sunggingan kreatifitas dunia disain dalam balutan komunikasi yang berbasis visual.
Salam.
Selengkapnya...