HEADLINE TEXT MARQUE FITURE | CHANGE ALL OF THIS TEXT WITH YOUR OWN | MAGZ MODERN | TEMPLATE BY JALOE | DESIGN BY HERRO | MODIF BY NDYTEEN

Monday, January 25, 2010

Getart #4






Biennale Jogja X-2009 telah berakhir dengan sukses dan meriah, setelah itu Yogyakarta kembali menggelar event yang pertama kali di adakan di Yogyakarta bahkan di Dunia yaitu Biennale anak.
Tujuan diadakan biennale anak ini guna kepentingan untuk memberikan pendidikan seni terhadap anak-anak. Sehingga Biennale Anak inilah wadah untuk menciptakan ruang baru untuk mengekspresikan dan menumbuhkan percaya diri. Sehingga nantinya kita akan menciptakan seniman-seniman kecil yang akan menggantikan kami kelak. Tapi pada proses-proses selanjutnya diharapkan akan mengalami perkembangan pengelolaan program melibatkan anak-anak sampai mereka sendiri nanti yang menjalankan Biennale Anak ini.
Biennale Anak yang mengusung tema “doKuMenkU” ini akan diikuti 283 anak berusia 4-18 tahun dengan menampilkan beragam karya seni berupa karya lukis, foto, video, komik, kolase, boneka dan grafiti. Selain itu, juga akan diselenggarakan seminar, workshop, pemutaran film serta melukis bersama anak-anak dan seniman kondang.
Dalam acara pemutaran film di pertontonkan karya-karya yang sangat berkelas (Garin Nugroho) . Sementara untuk acara melukis bersama anak-anak, akan dihadirkan perupa Djoko Pekik dan Nasirun yang akan melukis bersama anak-anak.
Sebuah konsep baru dan unik akan dijajal dalam Biennale Anak nanti. Konsep itu adalah Pasar DolDolan. Pasar DolDolanan adalah ruang bermain yang seru, menantang, dan bisa dinikmati anak-anak selama pameran berlangsung. Biennale Anak yang pertama ini dibuka secara resmi oleh GKR Hemas yang akan diawali dengan karnaval anak yang akan diikuti kurang lebih 100 anak-anak dengan memakai topeng.
Yang unik dari Biennale anak ini adalah Anak-anak yang masuk ke kota ini diwajibkan membawa mainan bekas untuk ditukar dengan mata uang mainan bernama Dolan. Dan ini tentu saja hanya berlaku di kota mini. Selain itu harga tiket untuk menyaksikan film dan memasuki arena bermain anak hanya menggunakan sekitar 10 uang dolan ( 10 Logam Uang Mainan) “Kursnya Rp1.000 setara dengan satu uang dolan dan panitia menyediakan counter khusus penukaran uang. Bagi pengunjung yang akan melakukan transaksi harus memakai uang dolan,”

Biennale Jogja X-2009 telah berakhir dengan sukses dan meriah, setelah itu Yogyakarta kembali menggelar event yang pertama kali di adakan di Yogyakarta bahkan di Dunia yaitu Biennale anak.
Tujuan diadakan biennale anak ini guna kepentingan untuk memberikan pendidikan seni terhadap anak-anak. Sehingga Biennale Anak inilah wadah untuk menciptakan ruang baru untuk mengekspresikan dan menumbuhkan percaya diri. Sehingga nantinya kita akan menciptakan seniman-seniman kecil yang akan menggantikan kami kelak. Tapi pada proses-proses selanjutnya diharapkan akan mengalami perkembangan pengelolaan program melibatkan anak-anak sampai mereka sendiri nanti yang menjalankan Biennale Anak ini.
Biennale Anak yang mengusung tema “doKuMenkU” ini akan diikuti 283 anak berusia 4-18 tahun dengan menampilkan beragam karya seni berupa karya lukis, foto, video, komik, kolase, boneka dan grafiti. Selain itu, juga akan diselenggarakan seminar, workshop, pemutaran film serta melukis bersama anak-anak dan seniman kondang.
Dalam acara pemutaran film di pertontonkan karya-karya yang sangat berkelas (Garin Nugroho) . Sementara untuk acara melukis bersama anak-anak, akan dihadirkan perupa Djoko Pekik dan Nasirun yang akan melukis bersama anak-anak.

Sebuah konsep baru dan unik akan dijajal dalam Biennale Anak nanti. Konsep itu adalah Pasar DolDolan. Pasar DolDolanan adalah ruang bermain yang seru, menantang, dan bisa dinikmati anak-anak selama pameran berlangsung. Biennale Anak yang pertama ini dibuka secara resmi oleh GKR Hemas yang akan diawali dengan karnaval anak yang akan diikuti kurang lebih 100 anak-anak dengan memakai topeng.
Yang unik dari Biennale anak ini adalah Anak-anak yang masuk ke kota ini diwajibkan membawa mainan bekas untuk ditukar dengan mata uang mainan bernama Dolan. Dan ini tentu saja hanya berlaku di kota mini. Selain itu harga tiket untuk menyaksikan film dan memasuki arena bermain anak hanya menggunakan sekitar 10 uang dolan ( 10 Logam Uang Mainan) “Kursnya Rp1.000 setara dengan satu uang dolan dan panitia menyediakan counter khusus penukaran uang. Bagi pengunjung yang akan melakukan transaksi harus memakai uang dolan,” 23 Januari 2009

Getart #4 Download Selengkapnya...

Sunday, January 10, 2010

Biography

Jean-Michel Basquiat





Basquiat was born in Brooklyn, New York. His mother, Matilde, was Puerto Rican and his father, Gerard Basquiat, is an accountant of Haitian origin. Because of his parents' nationalities, Basquiat was fluent in French, Spanish, and English from an early age. He read in these languages, including Symbolist poetry, mythology, and history.[2] At an early age, Basquiat displayed an aptitude for art and was encouraged by his mother to draw, paint and to participate in other art-related activities. In 1977, when he was 17, Basquiat and his friend Al Diaz started spray-painting graffiti art on buildings in lower Manhattan, adding the infamous signature of "SAMO" (i.e., "same old shit") see: SAMO© Graffiti entry. The graphics were pithy messages such as "Plush safe he think.. SAMO" and "SAMO as an escape clause". In December 1978, the Village Voice published an article about the writings. The SAMO project ended with the epitaph "SAMO IS DEAD" written on the walls of SoHo buildings. Unlike the average graffiti artist, Jean-Michel Basquiat came to personify the art scene of the 80's, with its merging of youth culture, money, hype, excess, and self-destruction. And then there was the work, which the public image tended to overshadow: paintings and drawings that conjured up marginal urban black culture and black history, as well as the artist's own conflicted sense of identity. Basquiat's ploy was to write anti-materialism messages in plain view of some of the worst materialists around. This was not only a key to his rise to fame, but a stunning reflection of the tendency of the bourgeoisie to co-opt cultural opposition.

Basquiat attended Edward R. Murrow High School and City as a School in New York. In 1978, Basquiat dropped out of high school and left home, a year before graduating. He moved into the city and lived with friends, surviving by selling T-shirts and postcards on the street, and working in the Unique Clothing Warehouse on Broadway. By 1979, however, Basquiat had gained a certain celebrity status amidst the thriving art scene of Manhattan's East Village through his regular appearances on Glenn O'Brien's live public-access cable show, TV Party. In the late 1970s, Basquiat formed a band called Gray (the name being a reference to the book Gray's Anatomy), with Shannon Dawson, Michael Holman, Nick Taylor & Wayne Clifford. Gray played at clubs such as Max's Kansas City, CBGB, Hurrahs, and the Mudd Club. Basquiat worked in a film Downtown 81 (a.k.a New York Beat) which featured some of Gray's rare recordings on its soundtrack.[4] He also appeared in Blondie's video "Rapture" as a replacement for DJ Grandmaster Flash when he was a no-show.

Basquiat first started to gain recognition as an artist in June 1980, when he participated in The Times Square Show, a multi-artist exhibition, sponsored by Collaborative Projects Incorporated (Colab) and Fashion Moda. In 1981, poet, art critic and cultural provocateur Rene Ricard published "The Radiant Child" in Artforum magazine[5], helping to launch Basquiat's career to an international stage. During the next few years, he continued exhibiting his works around New York as well as internationally (alongside other street artists) now in the galleries such as Now Gallery, later promoted by Bruno Bischofberger and other gallery owners and dealers. He later showed at the galleries of Larry Gagosian and Mary Boone.

By 1982, Basquiat was showing regularly, and alongside Julian Schnabel, David Salle, Francesco Clemente and Enzo Cucchi, became part of what was called the Neo-expressionist movement. He started dating an aspiring and then-unknown performer named Madonna in the fall of 1982. That same year, Basquiat met Andy Warhol, with whom he collaborated extensively in 1984-1986, forging a close, if strained, friendship. He was also briefly involved with artist David Bowes. Since he had an enormous appetite for drugs, expensive clothing, fancy restaurants and first-class travel, this meant that he was tempted to work around the clock. Stoked by cocaine and marijuana, he'd often paint 18 hours in a row and then use heroin to get to sleep. When he awoke, he'd start off where he left off. As a modern-day equivalent of the Nibelungen, Basquiat labored away in the windowless basement of an upscale gallery run by an Italian woman named Annina Nosei who saw herself as an "ex-hippie". Basquiat worked on his paintings in Armani suits and often appeared in public in these same paint-splattered $1000 suits--a testament to his affinity for both mammon and bohemia.


Selengkapnya...

Friday, January 8, 2010

Body Painting, Creative

Women body painting art

Body painting, or sometimes bodypainting, is a form of body art, considered by some as the most ancient form of art. Unlike tattoo and other forms of body art, body painting is temporary, painted onto the human skin, and lasts for only several hours, or at most (in the case of Mehndi or "henna tattoo") a couple of weeks. Body painting that is limited to the face is known as face painting. Body painting is also referred to as (a form of) temporary tattoos; large scale or full-body painting is more commonly referred to as body painting, while smaller or more detailed work is generally referred to as temporary tattoos. Tags:body painting, bodypainting art, world bodypainting.





































http://curiousphotos.blogspot.com
Selengkapnya...

Drawing Lines in the Sand

Drawing Lines

in the Sand



Chef and Artist Jim Denevan creates freehand drawings in the sand, often with nothing more than a found stick and a rake. His monumental drawings are temporary, created in areas which will soon be reshaped by wind or water.

The video above shows Jim’s 2009 land drawing in Nevada, captured by filmmaker Peter Hinson. According to Hinson “What really strikes me is that you can't see anything from the ground. I had no idea what the piece looked like until we were aerial! Jim is good at what he does.”

Below are photos of Jim's other installations. His portfolio can be found at jimdenevan.com. Peter Hinson, photographer, can be found at peterhinson.com.











http://www.divinecaroline.com

Selengkapnya...